Lagi-lagi serpihan tajam itu menyentuh lantai. Menyisakan serpihan tajam lainnya yang entah pantas atau tidak disebut cermin kembali. Terlepas dari hal itu, cermin rumpang yang tergeletak di ujung ruangan tersebut sedang memantulkan wujud pelaku yang merusaknya. Wajahnya yang terpantul di cermin bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. Wajah cantik yang di hiasi buliran air mata itu menatap nanar ke arah cermin. Terbesit ide melanjutkan kegiatan memporak-porandakan kamarnya, tetapi ia urungkan karena tersadar pada akhirnya hanya ada dirinya seorang yang akan membersihkan kekacauan tersebut.
Ada hati
yang terluka, kepala yang berat, dan lelahnya raga yang menyita kesadarannya
sesaat. Sudah cukup cerminnya saja yang rusak akibat dirinya yang kehilangan
kendali untuk hari ini. Namun tiba-tiba perempuan tersebut menyadari kesalahan
fatal yang telah ia perbuat. Ia merasa bodoh karena telah merusak cermin
satu-satunya yang seharusnya menjadi bahan tugas selanjutnya.
Dengan cepat
ia menyambar jaket dan tas kecilnya bermaksud untuk langsung pergi ke kota
mencari cermin pengganti miliknya yang sudah rusak. Beruntung ditempatnya
sekarang halte bus sudah tersedia. Tidak terbayang seberapa berat baginya
menahan emosi yang sedang labil bila ia terpaksa menaiki angkutan umum berwarna
hijau itu sekarang.
Karena
lalu lintas yang padat ia terpaksa menunggu 15 menit lagi untuk bus yang sesuai
tujuannya sampai di halte. Sembari menunggu, bayangan dirinya yang lepas
kendali beberapa saat yang lalu memenuhi kepalanya. Ia tersadar bahwa lagi-lagi
dirinya sendiri lah yang menjadi alasan atas kekecewaannya.
Entah
sejak kapan perempuan itu tidak lagi merasa dirinya pantas bersanding dengan
individu lainnya. Entah ingin maju ataupun mundur, rasanya tidak masalah apabila
ia salah menapak atau bahkan terus menetap. Cepat atau lambat dirinya akan muak
untuk sekedar kembali bangkit. Disitulah hidupnya akan berhenti menemukan titik
terangnya. Kelamnya hidup lebih pantas ia lalui dibanding menapaki terang yang
sama kosongnya.
Dialog di
kepalanya terganggu oleh dua insan yang sedang bercengkrama tidak jauh dari
tempatnya duduk. Ia tidak merasa marah karena terganggu dan justru menikmati
obrolan dua manusia asing tersebut.
Tidak
lama, bus yang sesuai tujuannya pun menepi di halte. Pintu bus yang terbuka
terpampang jelas dihadapannya. Namun ia justru berbalik berjalan lurus pergi
meninggalkan halte. Entah mengapa langkah kakinya terasa lebih ringan
dibandingkan saat ia berangkat. Tanpa sadar senyuman tipis terukir di wajahnya.
Senyuman manis yang sudah lama tidak menghiasi wajah cantik tersebut. Dialog
dua orang asing di halte tadi telah memberikan suatu dorongan baginya. Dorongan
yang ia sendiri pun tidak sadar bahwa ia membutuhkannya. Ucapan salah seorang
dari mereka terus bergema di dalam kepalanya tanpa henti.
“Ada satu
hal yang sangat mudah kita temui dalam diri seseorang, yaitu betapa sulitnya mereka
memandang diri sendiri melalui pantulannya masing-masing. Betapa banyak berlian
yang terlewat di dalam sebuah pantulan cermin karena terlalu sibuk melihat
pantulan cermin orang lain”
Created by Ayesha Fazila Zahra , X IPS 1 ( Geografi)

No comments:
Post a Comment