Saturday, September 25, 2021

Titik Kembali

https://blue.kumparan.com/image/upload/

Lagi-lagi serpihan tajam itu menyentuh lantai. Menyisakan serpihan tajam lainnya yang entah pantas atau tidak disebut cermin kembali. Terlepas dari hal itu, cermin rumpang yang tergeletak di ujung ruangan tersebut sedang memantulkan wujud pelaku yang merusaknya. Wajahnya yang terpantul di cermin bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. Wajah cantik yang di hiasi buliran air mata itu menatap nanar ke arah cermin. Terbesit ide melanjutkan kegiatan memporak-porandakan kamarnya, tetapi ia urungkan karena tersadar pada akhirnya hanya ada dirinya seorang yang akan membersihkan kekacauan tersebut.

Ada hati yang terluka, kepala yang berat, dan lelahnya raga yang menyita kesadarannya sesaat. Sudah cukup cerminnya saja yang rusak akibat dirinya yang kehilangan kendali untuk hari ini. Namun tiba-tiba perempuan tersebut menyadari kesalahan fatal yang telah ia perbuat. Ia merasa bodoh karena telah merusak cermin satu-satunya yang seharusnya menjadi bahan tugas selanjutnya.

Dengan cepat ia menyambar jaket dan tas kecilnya bermaksud untuk langsung pergi ke kota mencari cermin pengganti miliknya yang sudah rusak. Beruntung ditempatnya sekarang halte bus sudah tersedia. Tidak terbayang seberapa berat baginya menahan emosi yang sedang labil bila ia terpaksa menaiki angkutan umum berwarna hijau itu sekarang.

Karena lalu lintas yang padat ia terpaksa menunggu 15 menit lagi untuk bus yang sesuai tujuannya sampai di halte. Sembari menunggu, bayangan dirinya yang lepas kendali beberapa saat yang lalu memenuhi kepalanya. Ia tersadar bahwa lagi-lagi dirinya sendiri lah yang menjadi alasan atas kekecewaannya.

Entah sejak kapan perempuan itu tidak lagi merasa dirinya pantas bersanding dengan individu lainnya. Entah ingin maju ataupun mundur, rasanya tidak masalah apabila ia salah menapak atau bahkan terus menetap. Cepat atau lambat dirinya akan muak untuk sekedar kembali bangkit. Disitulah hidupnya akan berhenti menemukan titik terangnya. Kelamnya hidup lebih pantas ia lalui dibanding menapaki terang yang sama kosongnya.

Dialog di kepalanya terganggu oleh dua insan yang sedang bercengkrama tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia tidak merasa marah karena terganggu dan justru menikmati obrolan dua manusia asing tersebut.

Tidak lama, bus yang sesuai tujuannya pun menepi di halte. Pintu bus yang terbuka terpampang jelas dihadapannya. Namun ia justru berbalik berjalan lurus pergi meninggalkan halte. Entah mengapa langkah kakinya terasa lebih ringan dibandingkan saat ia berangkat. Tanpa sadar senyuman tipis terukir di wajahnya. Senyuman manis yang sudah lama tidak menghiasi wajah cantik tersebut. Dialog dua orang asing di halte tadi telah memberikan suatu dorongan baginya. Dorongan yang ia sendiri pun tidak sadar bahwa ia membutuhkannya. Ucapan salah seorang dari mereka terus bergema di dalam kepalanya tanpa henti.

“Ada satu hal yang sangat mudah kita temui dalam diri seseorang, yaitu betapa sulitnya mereka memandang diri sendiri melalui pantulannya masing-masing. Betapa banyak berlian yang terlewat di dalam sebuah pantulan cermin karena terlalu sibuk melihat pantulan cermin orang lain”

 Created by Ayesha Fazila Zahra , X IPS 1 ( Geografi) 

No comments:

Post a Comment

KETIKA HUJAN TURUN

  https://asset.kompas.com Sore itu di jalan O tista , Bogor,   seorang kakek bernama Sarmin yang masih setia menjaga tempat percetakan ke...